Taman Nasional Sembilang – Sejarah, Tanaman Fauna & Wisata
Taman Nasional Sembilang atau TN Sembilang merupakan tempat taman nasional yang berdampingan dengan Taman Nasional Berbak. Oleh karena itu, kedua kawasan pinjaman tersebut kerap disebut selaku Taman Nasional Berbak Sembilang. Kawasan seluas 202.896,31 hektar ini berada di Provinsi Sumatera Selatan.
Beberapa tahun setelah diresmikan sebagai taman nasional, kawasan ini ditetapkan selaku salah satu lahan lembap. Hal tersebut sesuai dengan keadaan alam yang dimilikinya, adalah berupa perpaduan antara dataran dan perairan. Lingkungan tersebut menjadi habitat bagi berbagai spesies tanaman dan fauna yang mampu dijumpai di taman nasional ini.
Sejarah Taman Nasional Sembilang
Sejarah pembentukan Taman Nasional Sembilang dimulai pada tahun 1994. Berdasarkan perda Tingkat I Sumatera Selatan Nomor 5 yang dikeluarkan pada tanggal 28 Februari 1994 perihal Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Selatan.
Pada peraturan tersebut, Gubernur Provinsi Sumatera Selatan menunjuk semua kelompok hutan dalam hal ini Suaka Margasatwa Terusan Dalam seluas 25.750 hektar, Hutan Produksi Terbatas Terusan Dalam seluas 49.000 hektar, Hutan Lindung Sembilang seluas 113.173 hektar, dan area perairan seluas 17.827 hektar untuk menjadi Hutan Suaka Alam seluas 205.750 hektar.
Selanjutnya, pada tahun 1996 Ditjen Bangda Departemen Dalam Negeri yang bekerjasama dengan Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen Kehutanan mulai melakukan pengkajian potensi kawasan Hutan Suaka Alam (HAS) Sembilang dan hutan di sekitarnya.
Hasil dari kajian hasilnya melahirkan kesimpulan bahwa kawasan hutan tersebut menyanggupi patokan dan standar untuk menjadi Kawasan Pelestarian Alam dalam bentuk daerah Taman Nasional.
Sebagai bentuk tindaklanjut dari hasil kajian tersebut, pada tahun 1998 menurut surat Nomor 552/5459/BAP-IV/1998 akhirnya Gubernur Sumatera Selatan menyetujui proposal untuk mengubah status Hutan Suaka Alam Sembilang menjadi Calon Taman Nasional.
Pada hasilnya, pada tahun 2001 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 76/Kpts-II/2001 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan untuk menjadi daerah Taman Nasional Sembilang.
Penetapan secara resmi menjadi taman nasional dikeluarkan pada tahun 2003 lewat Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 95/Kpts-II/03 tanggal 19 Maret 2003 perihal penetapan status Kawasan Taman Nasional Sembilang seluas 202.896,31 hektar.
Kondisi Alam Taman Nasional Sembilang
1. Letak dan Topografi
Secara geografis Taman Nasional Sembilang berada pada koordinat 104° 12′ – 104° 55′ Bujur Timur dan 1° 38′ – 2° 25′ Lintang Selatan. Sementara secara administratif kawasan ini berlokasi di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Kondisi topografi taman nasional ini ialah datar dan bergelombang dengan ketinggian beragam antara 0 – 500 meter di atas permukaan bahari.
2. Iklim dan Hidrologi
Suhu di Taman Nasional Sembilang ini berada pada kisaran antara 22° – 33° Celcius. Sedangkan curah hujan rata-rata sebesar 260 mm per tahun. Terdapat banyak sungai yang mengalir di daerah yang didominasi oleh area perairan ini.
3. Geologi dan Tanah
Formasi geologi Taman Nasional Sembilang yakni bab dari sedimen Palembang yang ialah dataran rawa terbesar. Selain itu, daerah ini terdiri atas endapan rawa dan endapan aluvial.
Jenis tanah yang mampu dijumpai di tempat ini ialah psammaquents, sulfic endoaquents, typic endoaqueps, terric sulfiheists, typic haploheists, typic sulfihemists, typic haplosaprists, typic sulfaquents, serta tambak.
4. Ekosistem dan Zonasi
Beberapa tipe ekosistem di Taman Nasional Sembilang ialah ekosistem hutan rawa gambut, ekosistem hutan rawa air tawar, dan ekosistem hutan riparian. Sementara itu, pengelolaan taman nasional yang menerapkan tata cara zonasi terdiri atas 6 zona.
Keenam zona tersebut adalah zona khusus seluas 4.083,641 hektar, zona inti seluas 83.184,798 hektar, zona rimba seluas 105.727,81 hektar, zona rehabilitasi seluas 5.477,014 hektar, zona pemanfaatan seluas 2.497,818 hektar, dan zona tradisional seluas 4.083,641 hektar.
Flora dan Fauna Taman Nasional Sembilang
Sebagai kawasan yang terbentuk dari dataran dan perairan, jenis tumbuhan dan satwa yang mampu ditemui di Taman Nasional Sembilang cukup bermacam-macam. Mulai dari jenis yang hidup di sekeliling areal air hingga dengan yang hidup di dataran dan hutan.
1. Flora
Beberapa jenis tumbuhan yang dapat ditemui di Taman Nasional Sembilang antara lain gajah paku (Acrostichum aureum), nipah (Nypa fruticans), cemara Laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus tectorius), maritim waru (Hibiscus tiliaceus), nibung (Oncosperma tigillaria), jelutung, menggeris (Koompassia excelsa), dan gelam tikus (Syzygium inophylla).

Adapun tumbuhan mangrove yang hidup di kawasan ini ialah Rhizophora (Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata), Nepenthes ampullaria yang merupakan spesies indikator pada gambut dalam. Kemudian Brugierra (Bruguierra gymnorrhiza, Bruguierra parviflora, Bruguierra sexangula, dan Bruguierra cylindrica), Aegiceras (Aegiceras corniculatum dan Aegiceras floridum).
Tumbuhan mangrove yang lain adalah Kandelia candel, Sonneratia (Sonneratia caseolaris, Sonneratia alba, dan Sonneratia Ovata), Avicennia (Avicennia marina, Avicennia alba, dan Avicennia ofificinalis),Ceriops (Ceriops decandra dan Ceriops taga), Xylocarpus (Xylocarpus granatum dan Xylocarpus molucensis), dan Excoecaria agallocha.
Dijumpai pula flora jenis ramin yang merupakan tumbuhan dilindungi, spesies nibung (Oncosperma tigillarium), kantong semar (Nepenthes sp.), dan berbagai spesies palem. TN Sembilang juga menjadi habitat spesies anggrek setempat seperti Cymbidium hartinahiahium and Dendrobium macrophylum.
2. Fauna
Tercatat ada 53 spesies mamalia yang hidup di Taman Nasional Sembilang. Pada area hutan pantai, hidup binatang mirip harimau Sumatera (Panthera tigris-sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), kucing mas (Catopuma temminckii), siamang (Hylobates syndactylus), tapir (Tapirus indicus), rusa sambar (Cervus unicolor), dan babi hutan (Sus spp.).
Adapun mamalia air yang hidup di kawasan ini, adalah lumba-lumba tanpa sirip punggung (Neophocaena phocaenoides), lumba-lumba air tawar atau pesut (Orcaella brevirostris), dan lumba-lumba bungkuk (Souca chinensis).

Kelompok reptil yang menghuni tempat perairan taman nasional ini berjumlah 16 spesies, antara lain buaya air asin (Crocodylus porosus), buaya (Tomistoma schlegelii), biawak (Varanus salvator), labi-labi berskala besar (Chitra indica), dan ular punti masak (Boiga dendrophyla).
Ada lumayan banyak golongan aves yang hidup di TN Sembilang, mulai dari jenis endemik sampai migran. Beberapa diantaranya ialah bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), bangau bluwok putih (Mycteria cinerea), ibis cucuk besi (Threskiornis melalochepalus), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster), dan undan putih (Pelecanus onocrotalus).
Selain itu, ada juga cangak debu (Ardea cinerea), cangak bahari (Ardea sumatrana), trinil tutul (Pseudototanus guttifer), blekok asia (Limnodromus semipalmatus), dara bahari biasa (Sterna hirundo), dara maritim jambul (Sterna bergii), dara bahari sayap putih (Chlidonias leucoptera), gajahan (Numenius sp.), dan burung biru laut ekor hitam (Limosa limosa).
Sementara itu, dikenali ada 28 spesies burung air migran yang kerap singgah di areal taman nasional. Rata-rata puluhan ribu burung migran yang berasal dari Siberia mampu dijumpai di kawasan ini pada sekitar bulan Oktober.
Sedangkan untuk kalangan ikan, terdapat ikan sembilang (Plotusus canius), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris), ikan toman (Channa micropeltes), dan ikan tapah (Wallago leerii).
Kegiatan dan Destinasi Wisata
Berbagai kegiatan mampu dikerjakan di daerah Taman Nasional Sembilang, mulai dari yang sederhana hingga ekstrem. Hal tersebut juga disokong dengan eksistensi banyak sekali obyek wisata yang mampu dikunjungi di kawasan taman nasional.
1. Menyusuri Sungai
Salah satu aktivitas yang paling mengasyikkan untuk dikerjakan di taman nasional ini yaitu susur sungai. Terdapat sungai yang mengalir di tengah hutan mangrove dan biasa dijadikan selaku lokasi penyusuran. Sepanjang perjalanan mata akan dimanjakan oleh aneka macam jenis flora serta sesekali satwa akan terlihat di erat hutan.

Tidak hanya itu saja, hadirin juga mampu melakukan acara lain seperti memancing di tepi sungai. Jika tiba pada waktu yang tepat pemandangan burung migran dari Siberia juga akan memanjakan mata. Tidak lupa pula lumba-lumba air tawar yang diimpikan oleh para hadirin dikala menyusuri sungai.
2. Mengamati Burung
Seperti telah disebutkan sebelumnya, Taman Nasional Sembilang merupakan persinggahan untuk burung migran. Oleh alasannya itu, pada bulan tertentu kita dapat menyaksikan ribuan burung yang bermigrasi di areal perairan taman nasional ini.

3. Atraksi Budaya
Pengunjung yang senang dengan keragaman budaya juga mampu menyaksikan atraksi budaya di Taman Nasional Sembilang, tepatnya di luar daerah tersebut. Salah satunya yakni Festival Danau Ranau yang berlangsung pada bulan Desember di Oku, Sumatera Selatan.
20200920
Comments
Post a Comment